TANGERANG – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) kini tak lagi layak dipandang sebagai pilihan kedua setelah pendidikan formal. PKBM justru hadir sebagai pilihan sadar dan bermartabat bagi masyarakat yang ingin bangkit dan menata masa depan melalui jalur pendidikan nonformal.”Minggu(11/1/26)
Hal tersebut ditegaskan Marinan, Ketua Yayasan sekaligus Pengelola PKBM Bakti Pertiwi, dalam momentum penguatan peran pendidikan nonformal di tengah masyarakat Kabupaten Tangerang, baru-baru ini.
Menurut Marinan, stigma yang selama ini melekat pada PKBM sebagai tempat sekadar “mengejar ijazah” atau jalur pelarian masih cukup kuat di masyarakat. Padahal, PKBM hadir dengan semangat pendidikan yang inklusif, manusiawi, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
“PKBM bukan jalan pintas, melainkan jalan alternatif yang bermartabat. Di sinilah semangat belajar sepanjang hayat tumbuh, karakter mandiri dibentuk, keterampilan hidup diasah, dan harapan baru dilahirkan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa PKBM, khususnya PKBM Bakti Pertiwi, telah menjadi ruang pembuka kesempatan bagi mereka yang sempat terhenti pendidikannya. PKBM bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan wadah pemulihan mimpi dan penguatan jati diri.
“PKBM adalah ruang kedua bagi mimpi yang sempat tertunda. Di sinilah harapan yang hampir padam kembali menyala. Pendidikan hadir dengan wajah yang lebih manusiawi, inklusif, dan dekat dengan realitas kehidupan masyarakat,” kata Marinan.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen masyarakat pemerintah, tokoh pendidikan, hingga orang tua untuk bersama-sama mengubah stigma menjadi kebanggaan. Menurutnya, PKBM bukan pendidikan cadangan, melainkan solusi nyata dalam menjawab tantangan akses dan pemerataan pendidikan.
“PKBM bukan pelarian, tetapi pijakan menuju masa depan yang lebih baik. Mari terus kita gaungkan bersama bahwa PKBM adalah pendidikan yang setara, berdaya, dan bermakna,” pungkasnya.(Mrn)







