LINK BERITANEWS.COM. Aceh – Di tengah derasnya arus kisah viral di media sosial, ada satu cerita yang benar-benar menampar nurani banyak orang. Cerita tentang seorang istri yang bertahan dalam pahit getir kehidupan rumah tangga, namun akhirnya diceraikan begitu saja hanya karena ia tak lagi mampu merawat diri setelah bertahun-tahun berjuang bersama suaminya dari nol.
Bukan karena perselingkuhan, bukan karena pengkhianatan besar. Tapi hanya karena penampilan.
Ya, penampilan yang dulu tak pernah dipermasalahkan saat keduanya hidup susah. Saat nasi pun harus dibagi dua, saat ia rela menahan lapar demi anak-anak, saat tangannya kasar bukan karena malas, tapi karena bekerja keras membantu suami agar dapur tetap mengepul.
Namun semuanya berubah ketika sang suami naik jabatan.
Perempuan yang dulu menjadi tempatnya bersandar kini dianggap tidak lagi “sepadan”. Lelahnya, peluhnya, pengorbanannya, seakan lenyap di mata suami yang kini merasa lebih “tinggi”.
“Sumpah demi Allah, hanya kisah ini yang membuat saya meneteskan air mata,” tulis salah satu warganet yang ikut menanggapi kisah itu. “Bagaimana tidak, seorang istri yang berjuang bertahun-tahun ditinggalkan hanya karena tak sempat lagi mempercantik diri padahal untuk makan saja kadang masih sulit.”
Sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu, mereka sering kali harus berpikir seribu kali lipat. Antara kebutuhan rumah, anak, dan nafkah yang terbatas, waktu untuk diri sendiri seakan menjadi kemewahan yang tak pernah sempat mereka miliki.
Dan ironinya, ketika perjuangan itu berhasil ketika hidup mulai mapan justru saat itulah mereka disisihkan.
Kisah ini bukan sekadar cerita sedih. Ini tamparan keras bagi mereka yang lupa dari mana asalnya. Lupa siapa yang dulu setia menemani di masa sulit.
Karena sejatinya, cinta yang sejati bukan diuji oleh seberapa indah penampilan seseorang, tapi seberapa kuat ia bertahan ketika hidup terasa berat.
Pesan moralnya sederhana:
Jangan pernah tinggalkan orang yang bersamamu di masa susah, hanya karena dunia mulai berpihak padamu. Sebab tak ada yang lebih menyakitkan daripada dihianati oleh orang yang dulu diselamatkan dari kehancuran.







